Berita / Pengumuman

Spirit Ramadan Membentuk Pribadi Berintegritas melalui Tazkiyatun Nafs

  • Di Publikasikan Pada: 25 Feb 2026
  • Oleh: Admin

Universitas Muhammadiyah Surabaya menggelar Kajian Ramadan Online Spesial Milad 1 Dekade Forum Keluarga (FK) UMSURA pada Rabu, 25 Februari 2026. Kajian ini menghadirkan Ust. Hanif Asadudin, B.A, Ketua PCIM Arab Saudi, yang menyampaikan materi bertajuk “Spirit Ramadan Membentuk Pribadi Berintegritas dengan Pendekatan Tazkiyatun Nafs.”

Dalam kajiannya, Ust. Hanif menekankan bahwa pembahasan tentang Ramadan sangat luas dan tidak akan pernah habis. Para ulama bahkan menyebut Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan “prime time” bagi seorang Muslim untuk meningkatkan kualitas ibadah dan spiritualitasnya. 

Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan, Allah memberikan berbagai keutamaan (fadhilah) baik dari sisi tempat maupun waktu. Dari sisi tempat, terdapat lokasi-lokasi yang memiliki nilai ibadah lebih tinggi seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha. Sementara dari sisi waktu, setiap ibadah juga memiliki keutamaan yang berbeda tergantung waktunya, misalnya perbedaan nilai dzikir pada siang hari dibandingkan dengan dzikir pada waktu sahur. 

Lebih lanjut, Ust. Hanif menjelaskan bahwa dalam kalender Islam terdapat beberapa waktu yang menjadi “prime time” ibadah. Di antaranya adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sepuluh hari pertama Muharram, dan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Menurutnya, sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan yang sangat besar hingga amalan di dalamnya lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari lainnya, dengan puncak amalan seperti puasa Arafah dan penyembelihan hewan kurban. 

Namun demikian, bulan Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri. Dalam hadis Rasulullah disebutkan bahwa ketika Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Hal ini menunjukkan adanya “support system” dari Allah yang memudahkan manusia untuk memperbanyak kebaikan selama bulan suci tersebut. 

Ust. Hanif juga mengibaratkan Ramadan sebagai “perdagangan yang mahal.” Dalam analogi tersebut, seorang Muslim adalah pedagangnya, amal saleh adalah barang dagangannya, Allah adalah pembelinya, dan balasan yang diberikan adalah surga seluas langit dan bumi. Oleh karena itu, setiap Muslim dianjurkan memaksimalkan momentum Ramadan dengan meningkatkan kualitas amal dan ibadah. 


Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memperbanyak dzikir dan doa selama Ramadan, salah satunya doa yang dianjurkan Rasulullah:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku). 


Di akhir kajian, Ust. Hanif menegaskan bahwa Ramadan harus dijalani dengan ilmu, karena Ramadan yang dijalani dengan pemahaman akan berbeda dengan Ramadan yang dilalui tanpa pengetahuan. Dengan ilmu, ibadah yang dilakukan akan lebih bermakna dan mampu membentuk pribadi Muslim yang berintegritas melalui proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

*Penulis Humas FK (Rahma)